Macan Komering

Macan Komering

December 27th, 2011 12:47 PM | by Admin2 | SENI DAN BUDAYA.  

Serial Cerita Rakyat Komring Ulu Sumsel
Oleh : Hadijaya (Kabid Pengembangan IT-IKAUT)

======================================================

 (BAGIAN-1)

Ketika waktu subuh itu, kakek Usin pergi sendirian menuju talang untuk menyadap getah karet. Pekerjaan demikian itu sudah menjadi kegiatan rutinnya sehari-hari selain bersawah.

Si Mat, temannya yang sama-sama sebagai penyadap kebetulan agak malas pergi masuk talang (hutan tanaman karet) karena anak muda itu baru beberapa hari lalu jadi pengantin (masih berbulan madu), … sehingga masih ingin bermalas-malasan ditempat tidur. Oleh sebab itu ketika kakek Usin memanggilnya dari halaman rumah, dia pura-pura tak mendengar.

Malah isterinya yang menyahut :
“Duluan saja kek !, … kanda nyusul sekitar jam sembilan !” katanya sambil mencubit pipi si Mat. Si Mat jadi nyengir senang, … karena cubitan tangan isteri dirasakannya halus dan lembut sebab wanita ini jarang bekerja berat.

“Baiklah … kalau begitu katakan saja pada Si Mat… saya jalan duluan !” kata kakek Usin sambil melangkah dengan mengusung parang.

Isteri Si Mat, lumayan cantik… kira-kira parasnya tak jauh beda dengan “Julia Perez” selebritis yang kerap main sinetron.

Sedangkan Si Mat, … dia termasuk tipe pemuda harapan pemudi. Badan besar tinggi, body building… sebab dia terbiasa menggendong keruntung. Dia kira-kira selevel dengan “Ade Ray”… sang binaragawan itu. Didesa mereka berdua itu termasuk kategori pasangan ideal.

Pasangan suami isteri ini baru saja keluar dari dalam kelambu, … lalu kata Si Mat : “Tolong dinda siapkan handuk, odol dan sabun, buat kanda mandi disungai !”.

Sambil merasa malu-malu dengan tetangga yang sama-sama hendak menuju tempat pemandian, Si Mat terus saja melangkah kearah sungai yang tak jauh dari rumahnya.

Dekat tangga ditebing sungai, mereka berjumpa dengan emak-emak yang masih famili, ada kemenakannya pula yang baru selesai mencuci. Si Mat kemudian diledekin mereka :

“aeh Mat tumben dikau bangun kesiangan, biasanya subuh dikau sudah ada disini”.
Adik misan-nya ikut menimpali : “yah.. yang namanya penganten baru, wajar saja bik kalau dia ini kesiangan”.

Si Mat seolah tak mendengar, dia hanya tersenyum sambil katanya : “hayo kalian buruan pulang sono, gantian dong makai tempat mandi ini… hehehe”.

Teringat dengan janjinya tadi akan berangkat ke talang nyusul kakek Usin, … maka Si Mat mempercepat mandinya. Selesai mandi junub, dia mengelap tubuh dengan handuk dan mengenakan baju … siap pulang.

Baru saja akan meninggalkan tempat pemandian, berjumpa pula dengan pamannya.
Sang paman mengabarkan bahwa talang karet dipekan terakhir ini kurang aman, karena ada sepasang macan (harimau) yang berkeliaran dan sudah menangkap seekor domba milik warga yang berdiam ditepi talang.

“Jadi jika kamu sekarang mau tak mau akan masuk talang, sebaiknya berhati-hatilah Mat !”
“Baik paman, terimakasih sudah mengingatkan”… kata Si Mat sambil pamit pulang.

Jalan-jalan ke talang,
Ketemu kebun karit,
Daunnya pada terbang,
Getahnya jadi duit.

Kakek Usin bersenandung sambil menumpahkan getah kedalam ember. Wajah dibalutnya dengan sorban sehingga hanya mata yang terlihat… sorban sebagai masker ini untuk mengatasi bau uap amoniak yang busuknya minta ampun. Getah tersebut bila tak diberi Amoniak akan lekas membeku, harganya tentu jatuh. Tetapi jika dapat menjual getah karet dalam keadaan cair, harganya tentu menguntungkan.

Kakek Usin belajar dari Dul Gitoh ilmu kimia kolloid tentang pengolahan karet sebab Si Dul adalah remaja dusun yang berpendidikan. Kakek Usin masih ingat dengan pembelajaran itu di talang, bukan didalam kelas. Si Dul menuliskan corat-coret di tanah pelajaran kimia.

“Kek… inilah rumus kimia larutan Amoniak :… NH4OH, yang gunanya untuk mencegah supaya getah tak lekas membeku, asam karboksilat harus stabil, supaya encer gunakanlah pada konsentrasi 25%, tuangkan kedalam botol plastik yang menggantung dibatang karet itu !” kata Si Dul membagi ilmu.

“Cara membekukannya nanti, bahan apakah yang harus ditambahkan ?… kudengar dari mereka pakai cuka para, apakah itu sama atau tidak dengan cuka dapur ?!” bertanya kakek Usin dengan harapan agar mengetahui pula ilmu yang ada dikepala anak pintar itu.

“Begini kek : … cuka dapur namanya asam asetat, rumus kimia-nya… CH3COOH, bukan untuk membekukan getah… jika untuk nyayur asem bolehlah itu”.

Getah akan membeku jika diberi cuka para sebagai koagulant yang memiliki nama lain yaitu asam semut atau asam formiat, rumus kimia-nya… HCOOH. Gunakan dalam konsentrasi minimal 25%, akan tetapi jika ingin hasilnya sangat beku, pakai saja dengan konsentrasi 75%.

Bilamana sedang berhadapan dengan bahan kimia tersebut, kakek Usin tak lupa pada pelajaran kimia terapan yang pernah diberikan Dul Gitoh.

Selesai memindahkan ember getah ke tengah kebun karet, kakek Usin lalu membawa jerigen cuka para, dituangkan kedalam botol plastik maksudnya untuk membekukan lima ember getah… namun tiba-tiba :

“Kroossaakk….. ghhrrr haauuuummm !!!” seekor macan yang besarnya nyaris menyamai sapi sudah tegak berdiri dengan dua kaki di hadapan kakek Usin.

Sontak kakek Usin jadi gemetaran seketika, ingin lari menghindar rasanya sudah tak kuasa, tiba-tiba dengkulnya berasa kaku tak mampu digerakkan, diapun diam terpaku sambil tangannya memegangi botol cuka para.

Dia berupaya mengusir macan itu dengan lirih : “husyy… husyy !!”, sambil meraih parang…. “husssy… husyy !”. Harimau itu malah makin mendekat.

Kakek mulai menyadari bahwa ia kini dalam bahaya, ia mencoba untuk bergerak sambil memposisikan kakinya untuk main pencak-silat. Namun diluar dugaan, rupanya ada seekor macan lain yang tiba-tiba menerkamnya dari belakang.
Kakek jatuh terjengkang, botol berisi cuka para terlempar keatas dan secara tak sengaja menyirami badan macan itu.

“Grhhh… hauuum !”… dada kakek diinjak dan dicakarnya sambil membukakan mulut kemuka kakek Usin. Mulut macan itu siap menggigit leher. Baunya busuk sekali seperti bau kucing mati dalam septic tank..

“Aku tak mau mati oleh macan… Yaa Tuhanku tolonglah !”. Kakek Usin serta merta berteriak menghiba.

Entah mengapa, tau-tau terjadi suatu keajaiban. Kedua macan itu tiba-tiba lari meninggalkan kakek Usin dan melompat masuk rimba.
Jiwa kakek Usin masih selamat, namun mengalami shock hebat, kelelahan pula karena dadanya penuh luka oleh cakaran kuku macan. Dia tergeletak ditengah kebun karet.

Waktu itu Si Mat sedang mampir di gubuk Dul Gitoh, dia sedang mencaritau berita mengenai domba warga yang hilang digondol macan.

“Domba itu saat pagi hari sedang makan rumput di belakang rumah mereka,… sorenya sudah raib !” kata Dul Gitoh menjelaskan.

Si Mat mula-i menjadi berang begitu mendengar perihal ada macan liar mengusik ketenangan warga. Si Mat minta kesediaan Dul Gitoh menemaninya menjemput kakek Usin.
“Baiklah Dul, kalau begitu temanilah saya ke talang menjemput kakek Usin !”.

Mereka berdua segera berjalan menuju kebun karet, … setelah puas berupaya mencari kesana kemari akhirna kakek Usin berhasil mereka temukan dalam keadaan sedang duduk selonjor dibawah pohon karet.

“Mari kek… kugendong pulang !” kata Si Mat sambil mengangkat badan kakek Usin kepundaknya.

Si Dul membereskan perkakas piranti menyadap getah karet sambil jalan beriring dibelakang Si Mat.

“Saya tidak apa-apa Mat, hanya sedikit luka jadi tak usah digendong karena saya masih mampu berjalan !” kata kakek Usin sambil turun dari pundak Si Mat.

Si Mat dan Si Dul berjalan sambil menuntun kakek Usin.
Baru saja sekitar sepuluh menit berjalan, terdengar pula suara : “hauuum …”, seekor macan yang tadi menyerang, kini akan menghalau kembali.

“Dul !… kawal saja kakek Usin, biarkan saya nanti yang akan menebas leher macan ini !” kata Si Mat memerintahkan agar mereka segera menjauh.

Si Mat mulai bersiap ancang-ancang dengan memasang kuda-kuda sambil memegang pisau belati.
Ketika macan itu lompat menerkam, Si Mat berkelit dan menyelinap kebawah sambil menancapkan belati diperut macan itu sehingga macan itu terluka parah.
Macan itu makin ngamuk dan menyambar dengan kukunya kebagian dada Si Mat, … kaos-nya tercabik. Si Mat salto keatas dan berhasil mendekap punggung macan. Leher macan itu dijepit sekuat tenaga dengan tangan kiri sambil terus menghujamkan belati berulang kali ke dada macan. Karena sakit dan terluka, macan itu lalu berguling-guling ditanah berdua dengan Si Mat. Kadang Si Mat diatas, kadang dibawah. Macan itu akhirnya mati, sementara badan si Mat penuh dengan luka serius.

Bersambung …….
NB : sumber cerita berjudul USIN HALIMAWONG

http://www.cempaka-oku.blogspot.com/2010/12/usin-halimawong.html

===================================================

(BAGIAN-2)

Sekalipun dalam pertarungan dengan macan itu Si Mat yang menjadi pemenang, namun ia nyaris kehabisan tenaga. Dul Gitoh menolongnya sambil juga memapah kakek Usin lalu melanjutkan perjalanan pulang ke desa.
Dalam perjalanan yang melelahkan itu mereka melihat sebuah gubuk (saung) tak berpenghuni ditepi rimba. Si Mat menyarankan agar ia ditinggalkan saja di gubuk tua itu untuk sementara waktu dan supaya Dul Gitoh dapat dengan mudah melanjutkan perjalanan mengantar kakek Usin. Sebetulnya Dul Gitoh agak khawatir meninggalkan Si Mat sendirian, namun iapun akhirnya menyetujui ketika Si Mat bersikeras dengan ide tersebut. Dul Gitoh berjanji akan segera balik kembali sambil mengajak para tetangga di desa. Si Dul dan kakek Usin melanjutkan perjalanan, sementara Si Mat beristirahat dulu di saung.

Hari kian gelap, lebih dari 2 jam Si Mat tengah menanti bantuan orang-orang desa akan tetapi bantuan itu belum juga datang. Dia-pun tertidur, tubuhnya terasa demam. Badannya panas-dingin, akibat banyak darah yang keluar. Kemungkinan terinfeksi virus Rabies dari air liur macan itu. Efek rabies dapat menimbulkan halusinasi pada penderita.

Ketika sedang lelap tidur… segerombolan semut hitam mengerumuni sekujur badannya mungkin karena bau sisa-sisa darah kering yang masih menempel ditubuh.
Si Mat terbangun saat mendengar suara macan mendengus-dengus di bawah saung. Si Mat ngintip dari celah-celah lantai papan. Tak salah lagi, itu ternyata suara dengus napas pasangan macan yang dibunuhnya tadi. Macan betina ini seakan ingin membalas kematian sang pejantan.

Si Mat diam tak bergeming, ia cukup tertolong karena jejak bau darah dibadan sudah tereliminasi semut hitam sehingga macan betina itu kehilangan jejak…. macan itu tak jadi naik keatas saung.

Tak seberapa lama kemudian macan itu mulai menjauh, Si Mat merasa agak lega.

Namun demikian rasa demam semakin berat. Si Mat kondisinya antara pingsan dan siuman.
Halusinasi mula-i menyerang, penglihatannya berkunang-kunang.
Pendengaran-pun mulai aneh-aneh… dia seakan mendengar suara orang berkumpul dipekan (pasar tradisionil), terdengar suara orang ngobrol dan tertawa-tawa.

Matahari mulai terbenam dan suasana gelap begitu mencekam, pepohonan rimba tertiup angin kencang seakan mau turun hujan. Si Mat sibuk membuang semut-semut yang masih menempel di badan.

Saat tengah menepis semut-semut… dia mendengar ada seseorang menaiki tangga saung dengan langkah berat. Orang tersebut sontak tercengang sambil berdiri dimuka pintu.

Mereka berdua sama-sama saling pandang. Orang asing itu menyapa duluan.
“Mengapa … tuan ada disini ?, saung ini milik kami… tempat ini adalah pos jaga kami !”

“Maafkan saya tuan, saya numpang berteduh sebentar, karena baru saja diserang macan, saya sedang mengalami keadaan darurat… !”, kata Si Mat sambil terus menatap orang tersebut.

“Baiklah, kalau begitu ikutlah dengan saya… nanti luka-luka anda akan kami obati ! “, balas orang itu sambil mengajak Si Mat turun dari saung.

Mereka berdua segera turun dari gubuk tua itu. Si Mat antara sadar dan tidak manut saja diajak lelaki setengah baya itu berjalan… dibawanya entah kemana.
Talang tempat mereka lalui makin terang oleh kemerlap lampu-lampu sentir. Suara tambur dan genderang kian nyaring terdengar. Nampaknya mereka berdua sedang menuju ke sebuah padepokan.

Tak lama kemudian mereka berdua memasuki sebuah gapura dan mulai terlihat sejumlah pria-wanita berlalu lalang. Namun dilokasi itu hanya orang-orang dewasa semua dan tak ada anak kecil disana. Seolah komunitas itu sedang menyambut kedatangan Si Mat dan pria yang mengawalnya.

Si Mat disambut tiga gadis cantik yang langsing dan putih kulitnya, … dikalungi mereka bunga cempaka. Lalu dituntun mereka memasuki rumah khusus pendatang.

“Inilah tempat beristirahat anda… tuan !. Ketiga gadis ini disediakan untuk melayani anda !” kata pengawal itu kepada Si Mat sambil pamit meninggalkan mereka.

Salah satu dari gadis itu mempersilahkan Si Mat menuju kamar tengah. Si Mat menuruti saja perintahnya. Setelah masuk kamar berdinding papan itu,  ketiga gadis itu serta-merta melepas pakaian Si Mat. Sebuah Jimat yang menggelantung dileher Si Mat dilepaskan mereka pula sambil gadis-gadis itu bercanda-tawa seolah sudah lama mengenali Si Mat.

Bekas-bekas luka dibadan Si Mat dilap-lap mereka dengan madu sambil terus memijat dan bermanja ria. Selesai berobat dan dipijat… Si Mat merasakan badannya kembali perkasa.
Si Mat dipakaikan oleh gadis-gadis itu pakaian kebesaran yang bagus. Tak lagi memakai pakaian komprang peranti menyadap getah karet.
Disalin mereka dengan celana beludru merah, kain songket merah benang mas, kemejanya teluk belanga jingga, sabuk kusir delman warna hijau, penutup kepala model tanduk kerbau. Sepatu kulit bertali temali sebagai alas kaki. Disemprot pula dengan minyak nyong-nyong aroma melati… walhasil harum semerbak, … keren abis.

“Bagus amat pakaian ini !, akan kalian apakan saya ini ?!” bertanya Si Mat kepada gadis yang sedang mencukuri jenggotnya.

“Tuan sebentar lagi akan kami pertemukan dengan paduka Putri Balamika !”

“Putri Balamika … siapakah dia ?, nama itu baru saja saya dengar dari kalian ?! kata Si Mat sambil memasang kembali jimat itu kelehernya.

“Beliau adalah Ratu kami disini !…. kata gadis itu sambil mengedipkan mata.

Tak lama kemudian… sang pengawal tadi datang sambil berkata : “Kalau sudah siap… bawalah calon mempelai pria ini keluar !”

Si Mat sontak menyahut : “Tuan !… saya sebetulnya sudah punya isteri di desa !, … baru saja seminggu yang lalu menjadi pengantin !”.

“Itu khan didesa kamu … kalau di-istana kami, siapa saja pria yang masuk wilayah ini dianggap bujangan !. Temuilah dulu ratu kami Putri Balamika, dia wanita tercantik di wilayah ini… kalau menolak nanti kamu bakal menyesal ! ”

“Okelah kalau begitu… dia segera akan saya temui !” kata Si Mat mulai tepengaruh.

Si Mat pun dituntun mereka keluar ruang penginapan. Tambur dan genderang dibunyikan lagi…. “tak tak dung… tak tak dung !”.

Sejumlah pria dan wanita muda ikut mengiring dibelakang Si Mat…. “tak tak dung… tak tak dung !” genderang terus dibunyikan.

Tak seberapa lama kemudian, rombongan pun sampai di muka pintu pendopo singgasana Putri Balamika.
Sang Ratu spontan berdiri tegak menyambut Si Mat yang hendak dipersuaminya. Mereka berdua saling adu pandang.
Si Mat mulai terpesona… “wadouu cantik amat wanita ini !”, gumamnya dalam hati sambil menelan ludah.
“Bagaimana pendapatmu Tuan ?… sudikah anda pada paduka Ratu ?!” tanya si pengawal pada di Si Mat.

Si Mat nyengir, sambil tersipu-sipu…. dia kurang pede dan khawatir jangan-jangan Putri Balamika nantinya berubah dan melakukan pembatalan setelah mengetahui bahwa Si Mat telah memiliki isteri, … disamping itu ia tidak mempunyai persiapan apapun dalam prosesi lamaran tersebut.

“Silahkan diaturi duduk !” sapa seseorang yang lebih dulu duduk sambil menyandar dipojokan…. ternyata dia sebagai penghulu.

Si Mat duduk berhadapan dengan Putri Balamika…
Bertanya penghulu pada Si Mat : “Tuan apakah anda bersedia menjadi suami Putri Balamika ?, sekalian menjadi raja yang mengepalai istana Balamika ?!”

“Sebetulnya saya…. saya…. saya bersedia !” jawab Si Mat sambil terlihat gugup dan bicara terbata-bata.

Putri Balamika tersenyum begitu mendengar ungkapan hati Si Mat. Giginya tampak putih dan rata, mulutnya mengeluarkan aroma harum… membuat gairah muda Si Mat kembali bangkit.

“Bila anda benar-benar suka pada paduka Putri Balamika, acara ijab-kabul ini akan kita mulai. Adakah sesuatu yang kamu bawa… maksud saya mas kawin yang akan anda berikan itu wujudnya seperti apa ?!”

“Wedeh belum ada pak !… sebab saya kemari dalam keadaan hendak pulang dari menyadap getah karet, jadi hanya membawa tatal saja !” kata Si Mat merasa tak enak hati.

Tatal adalah besi penggores seperti arit untuk melukai pohon karet agar getahnya dapat keluar.
Penghulu itu berbisik-bisik sejenak dengan Putri Balamika, kemudian sambil tertawa … ia bertanya lagi : “Benda apakah yang menggelantung dilehermu itu, jika digunakan sebagai mas kawin rela tidak ?!”

“Ohh… ini ?! …. ini jimatku, bila dikehendaki tuan Putri untuk mas kawin… ambil saja !” kata Si Mat seraya melepas jimat itu dari lehernya. Singkat cerita, akhirnya mereka jadi dikawinkan dengan mas kawin sebuah jimat.
Tak lama kemudian makanan yang enak-enak dibawa masuk ruang acara. Ada ayam kate panggang, ada pindang ikan puhal, samsam belalang rusa, kempelang, bingka, tapai, samalingkung dan ketan, anggur merah, siya jokjok, cuko kabung, mangga, duku… segala rupa makanan tersedia disana. Perut Si Mat tiba-tiba terasa lapar. Selesai ijab kabul semua tamu makan minum, bernyanyi, berjoget… berpesta pora penuh suka-ria. Si Mat pun ikut makan saling suap-suapan dengan sang Putri.

Selesai berpesta pora Si Mat dan Putri Balamika mulai meninggalkan para hadirin menuju kamar pengantin, mengadakan acara khusus pengantin. Dalam kamar itu mereka berdua ngobrol sambil berkasih mesra.

Jimat pemberian Si Mat kini digenggam Putri Balamika. Jimat itu telah menjadi milik Putri Balamika Sambil memeluk Si Mat, Putri Balamika minta agar jimat itu diikatkan dipinggulnya. Si Mat menuruti permintaan sang kekasih. Putri Balamika itupun lalu kembali mendekap erat tubuh kekar Si Mat.

Berada dalam pelukan Si Mat, sang Putri sempat menyandarkan pelipis didada Si Mat sambil berbisik lirih menuturkan bahwa sebenarnya Si Mat telah membunuh suami sang Putri dalam suatu perkelahian di areal hutan karet. Sang Putri merasa amat terpukul dengan kematian suaminya itu. Namun kesedihannya itu sirna karena Si Mat bersedia menjadi suami pengganti. Si Mat lebih guanteng lagi gagah perkasa, Putri Balamika jatuh hati padanya.

“Oh mungkinkah Putri Balamika ini, penjelmaan dari macan betina itu ?” Si Mat menggumam seakan tak percaya.

Si Mat menepis dugaan itu karena Putri Balamika demikian pasrahnya dalam pelukan Si Mat. Namun tiba-tiba tubuh Putri Balamika mengalami getaran yang hebat, badannya begitu dingin… tubuhnya dirasakan Si Mat makin kaku dan mengeras sejak mengenakan jimat itu. Tak lama kemudian badan Putri Balamika benar-benar menjadi beku dan alot seperti tanah liat. Si Mat demikian terkejut… dia tetap memeluknya sambi berharap kiranya kondisi tubuh Putri Balamika kembali normal seperti sediakala.

Apa yang diharapkan Si Mat sia-sia belaka, sang Putri telah berubah wujud menjadi gundukan tanah. Menyerupai patung wanita dari tanah liat lalu bentuk fisiknya berubah secara berangsur-angsur  menjadi gundukan tanah. Begitu menyadari semua itu, Si Mat pun terhenyak dan nangis mengharu-biru : “Oyy… dinda kenapa dirimu mengeras jadi tanah begini… !” katanya sambil terus memeluk gundukan tanah itu. Si Mat menyesalkan akibat mengenakan jimat tersebut Putri Balamika menjadi binasa.
Si Mat masih memeluk dan mencium balamika (tanah tumbuh = unur, unthuk/ jawa = balamika/komring), … dia dalam keadaan antara sadar dan tidak.

Angin kencang disertai hujan lebat mengguyur hutan karet itu. Suara tambur dan genderang terdengar kembali … “tak tak dung…. tak tak dung”. Mereka adalah rombongan Si Dul dari desa yang melakukan sweeping untuk mencari Si Mat dan baru saja tiba dilokasi. Begitu seorang diantara mereka mengetahui tempat Si Mat tersembunyi, merekapun berhenti membunyikan genderang.
“Ini dia Si Mat !” kata Si Dul kepada rombongannya sambil mendekati Si Mat.

Bahu Si Mat dipegang Si Dul sambil berkata :
“Hayo Mat kita pulang…. mohon maaf kami agak terlambat tiba disini. Sebetulnya kamu sudah menghilang selama dua hari ini. Kami mencarimu kesana kemari ternyata kamu berada disini !” kata Si Dul sambil menyeka air hujan yang membasahi wajahnya.

“Saya tidak ingin pulang… isteriku, … isteriku Balamika dia kini menjadi onggokan tanah… hadduuuhh !”

“Isterimu sebenarnya baik-baik saja Mat dan dia kini ada didesa, sedangkan yang kau dekap ini hanya gundukan tanah, … ini gundukan tanah Mat bukan binimu !”

“Tidaaaak !… jangan pisahkan aku darinya, dia adalah Putri Balamika, dia isteriku yang barusan saya nikahi !” kata Si Mat sambil nangis meraung-raung. Si Mat seperti orang yang lupa diri, dia dirasuk halusinasi.

Sedikit teori tentang Halusinasi, … dalam ilmu psikologi adalah persepsi panca indera yang terjadi tanpa rangsangan reseptor panca indera. Istilahnya persepsi tanpa obyek. Dapat mendengarkan suara atau melihat sesuatu atau mencium suatu bau tanpa rangsangan visual maupun rangsangan dari indera penciuman.

Macam-macam jenis halusinasi, misalnya :
Halusinasi Visual, melihat sesuatu yang sebenarnya tidak ada. Atau merasakan seolah-olah melihat sesuatu yang orang lain tak melihatnya.

Halusinasi Akustik, mendengar suara-suara kacau balau. Ada pula halusinasi Phonema, mendengar suara-suara dengan sangat jelas.

Halusinasi Olafaktorik, misalnya mencium bau tertentu tanpa ada sumber bau.
Halusinasi Haptik, gejala halusinasi ini seolah-olah dia dapat bersentuhan secara fisik dengan manusia atau benda lain. Biasanya halusinasi ini berhubungan dengan masalah seksual.

Halusinasi Kinestik, jika ia merasa seolah-olah jiwa terlepas dari badan atau tiba-tiba merasakan badannya berubah bentuk atau bergerak dengan sendirinya.
Halusinasi Autoskopi, seolah-olah melihat badan sendiri saling berhadap-hadapan.

Isi halusinasi biasanya kecemasan. Apa saja yang dihalusinasikan itu adalah projeksi dari kebutuhan psikologi/ sensor/ perasaan bersalah/ keinginan untuk mendapatkan kenyataan yang lebih memuaskan.

Halusinasi dapat timbul karena penyakit toksik/ organik. Halusinasi berkurang bila pasien punya kegiatan, akan makin parah jika dia banyak melamun. Halusinasi pada orang normal, misalnya halusinasi Hypnagogi yang timbul ketika ia antara tidur dan terjaga.

Lanjut cerita…. Si Dul mulai kehabisan akal untuk merayu Si Mat. Menyadari hal itu maka pak Keria (Kepala dusun) yang memimpin rombongan berkata pada Si Dul : “Sudahlah dul !… mari Si Mat kita gotong saja dan bawa segera pulang ke desa !”. Akhirnya Si Mat mereka gotong beramai-ramai meninggalkan hutan karet dalam suasana hujan lebat yang tak kunjung reda. Setiba di desa, Si Mat mendapat pengobatan dan perawatan hingga beberapa hari kemudian iapun sembuh.

Pasca peristiwa itu masyarakat desa menjuluki Si Mat sebagai “Macan Komring”. Julukan ini diberikan karena keberaniannya berkelahi melawan macan. Sebulan kemudian Si Mat merantau meninggalkan kampung halamannya. Dia dibawa sang paman pergi merantau menambah bekal pengetahuan sekaligus meningkatkan kedigdayaan. Mereka berdua bertolak meninggalkan desa dikala malam bulan purnama menuju Gunung Pesagi, Pusat kebudayaan etnis Komring yang dikenal dengan sebutan  Sekala Brak berbatasan dengan wilayah Lampung.

[Bersambung …. ]

=================================================

(BAGIAN-3)

Walhasil… setelah berhari-hari dalam perjalan itu, maka mereka berdua akhirnya sampai di Gunung Pesagi. Si Mat mulai mengkaji sejarah masa lalu etnis Komering.

Mereka berasal dari dataran tinggi dan menunjuk ke arah Gunung dan sebuah Danau yang luas. Danau tersebut ialah Danau Ranau. Sedangkan Gunung yang berada dekat Danau itu adalah Gunung Pesagi.

Adat Lembaga yang digunakan berasal dari Belasa Kepampang (Nangka Bercabang), sezaman dengan ranah pagaruyung pemerintah bundo kandung, naik Gunung Pesagi turun di Sekala Berak, memang sudah turun temurun dari nenek moyang dahulu, sirih pinang dibawa di dalam adat pusaka.

Ketika itu terdapat Kerajaan Sekala Brak kuno yang belum diketahui secara pasti kapan mulai berdirinya. Kerajaan Sekala Brak ini dihuni oleh Buay Tumi dengan Ibu Negeri Kenali dan agamanya Hindu Bairawa. Kala itu ada alat untuk mengeksekusi pemuda dan pemudi yang tampan dan cantik sebagai tumbal yang dipersembahkan untuk para Dewa.

Kerajaan Sekala Brak menjalin kerjasama perdagangan antar pulau dengan kerajaan kerajaan lain di Nusantara dan bahkan dengan India dan Negeri Cina.

Berdasarkan Prasasti Hujung Langit (Hara Kuning) bertarikh 9 Margasira 919 Caka yang di temukan di Bunuk Tenuar Liwa terpahat nama raja yang pertama yaitu Sri Haridewa. Prasasti ini terkait dengan Kerajaan Sekala Brak kuno yang masih dikuasai oleh Buay Tumi. Nama Raja yang mengeluarkan prasasti ini tercantum pada baris ke-7.

Lebih jauh lagi Sekala Brak Hindu adalah juga merupakan cikal bakal Sriwijaya, dimana saat persebaran awal dimulai dari dataran tinggi Pesagi dan Danau Ranau satu kelompok menuju keselatan menyusuri dataran Lampung dan kelompok yang lain menuju kearah utara menuju dataran Palembang. Seorang keturunan dari Sekala Brak Hindu adalah merupakan Pendiri dari Dinasti Sriwijaya yaitu Dapunta Hyang Sri Jayanaga yang memulai Dinasti Sriwijaya awal dengan ibu negeri Minanga Komering.

Berdasarkan Warahan dan Sejarah yang disusun didalam Tambo, dataran Sekala Brak yang pada awalnya dihuni oleh suku bangsa Tumi ini mengagungkan sebuah pohon yang bernama belasa kepampang atau nangka bercabang karena pohonnya memiliki dua cabang besar, satunya nangka dan satunya lagi adalah sebukau yaitu sejenis kayu yang bergetah. Keistimewaan belasa kepampang ini bila terkena cabang kayu sebukau akan dapat menimbulkan penyakit koreng atau penyakit kulit lainnya, namun jika terkena getah cabang nangka penyakit tersebut dapat disembuhkan. Karena keanehan inilah maka belasa kepampang ini diagungkan oleh suku bangsa Tumi.

Kerajaan Sekala Brak Hindu berakhir setelah kedatangan Empat Umpu Pagaruyung yang menyebarkan agama Islam, nama kerajaan berubah menjadi Kepaksian Sekala Brak, terletak di kaki Gunung Pesagi yang letaknya di dataran Belalau, sebelah selatan Danau Ranau yang secara administratif kini berada di Kabupaten Lampung Barat. Dari dataran Sekala Brak inilah masyarakat ini menyebar ke setiap penjuru dengan mengikuti aliran “way” (sungai-sungai) yaitu way komering, way kanan, way semangka, way seputih, way sekampung dan way tulang bawang beserta anak sungainya, sehingga meliputi dataran Lampung dan Palembang serta Pantai Banten.

Di Sekala Brak keempat Umpu bertemu dengan seorang Muli yang ikut menyertai para Umpu dia adalah Si Bulan. Di Sekala Brak keempat Umpu tersebut mendirikan suatu perserikatan yang dinamai Paksi Pak yang berarti Empat Serangkai atau Empat Sepakat.

Setelah perserikatan ini cukup kuat maka sejak itu disebarlah ajaran Islam di Sekala Brak. Pemimpin Buay Tumi dari Kerajaan Sekala Brak saat itu adalah seorang wanita yang bernama Ratu Sekerumong pada akhirnya ditaklukkan Perserikatan Paksi Pak. Dataran Sekala Brak akhirnya dikuasai oleh keempat Umpu yang disertai Si Bulan, Maka Sekala Brak kemudian diperintah oleh keempat Umpu dengan menggunakan nama PAKSI PAK SEKALA BRAK.

Agar syiar agama Islam tidak mendapatkan hambatan maka pohon Belasa Kepampang itu akhirnya ditebang kemudian dibuat Pepadun yaitu singgasana yang hanya dapat digunakan atau diduduki pada saat penobatan.  Ditebangnya pohon Belasa Kepampang ini merupakan pertanda hilangnya faham animisme di kerajaan Sekala Brak.

Suku Komering adalah satu klan dari suku Lampung yang berasal dari Kepaksian yang telah lama bermigrasi ke dataran Sumatera Selatan pada sekitar abad ke 7 dan telah menjadi beberapa Kebuayan atau Marga. Nama Komering diambil dari nama way atau sungai di dataran Sumatera Selatan yang menandai daerah kekuasaan Komering.

Sumber :

http://id.wikipedia.org/wiki/Komering

http://paksibejalandiway.blogspot.com/2008/09/kepaksian-sekala-brak-dan-asal-usul.html

 

 

 

Comments are closed.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s